Dikerjai Google Maps di Jawa Barat (1)

Sekitar setahun yang lalu saya pernah googling daerah wisata yang bisa dikunjungi sepanjang perjalanan menuju Jogja dari Jakarta jika lewat jalur selatan memakai mobil. Konteksnya waktu itu, sih, bersama anak-anak. Nah, di peta saya menemukan sebuah desa wisata bernama Kampung Naga di wilayah Tasikmalaya! Wah, apa pula ini? Tapi, karena satu dan lain hal, Kampung Naga tidak juga kami kunjungi dan masih dibintangi di google maps. Hehehe. Lalu, suatu saat kemudian, keponakan yang bersekolah di Jakarta cerita bahwa dia study tour ke Kampung Naga selama tiga hari. Haia … Kampung Naga lagi!

Oke, berarti memang Kampung Naga ini harus masuk dalam touring wishlist yang entah kapan akan terlaksana. Hehehe. Hingga akhirnya sekitar dua minggu setelah Lebaran, kami putuskan untuk untuk touring lagi. Sebentar aja, sih, karena anak-anak sudah akan masuk sekolah lagi setelah sebulan libur! Berhubung waktu itu Bapake sudah ada rencana akan riding bersama teman-temannya ke daerah timur sekitar akhir Juli, Bapake bilang ke daerah barat saja. Saya pikir inilah kesempatan untuk mewujudkan wishlist itu. 🙂

Niatnya waktu itu, pergi menginap sehari dua hari. Yah, berhubung kami terbiasa ke daerah timur dan terbiasa dengan pantai pasir putih, sebenarnya agak malas juga bagi kami mengeksplorasi pantai selatan Jawa ke arah barat yang mayoritas pasir hitam. Hingga sehari sebelum berangkat, Bapake menemukan sebuah tempat yang terlihat menarik untuk dikunjungi gara-gara Mbah Google, gara-gara ada iklan sebuah hotel di pinggir laguna, barat Pangandaran, nongol di iklan sebuah situs web: Hotel Java Lagoon. Cus langsung saya cari info di dunia maya. Review-nya bagus-bagus, dari foto-fotonya juga bagus. Akhirnya, kami pesan kamar Java Lagoon, kamar paling murah, kamar ekonomis! Kata Bapake, hanya sebentar, besoknya juga udah ke Kampung Naga. Baiklah.

Seperti biasa, anak-anak sudah dikondisikan alias diungsikan ke rumah nenek dan eyang pada malam sebelum kami berangkat. Untungnya, keponakan-keponakan masih pada ngumpul di Jogja. Jadi, mereka ada teman main, deh! Nah, karena kami berangkat pada Jumat dan Bapake masih ada yang harus dikerjakan, kami baru berangkat setelah Jumatan. Menjelang Ashar malah. Hehehe. Memang kesorean, sih. Sampai di Java Lagoon pasti di atas pukul 9.00 malam, nih.

Menuju barat, kalau dari Jogja, kami memilih melewati jalur Daendeles alias jalur selatan. Melewati Kulonprogo, saya perhatikan di kiri jalan beberapa tulisan dan poster protes pembangunan bandara di sana sudah mulai pudar, sudah mulai tampak usang, sudah tidak seperti beberapa waktu lalu yang sangat terlihat dari jalan. Jalan menuju Ambal alias Jalan Daendels masih saja mulus. Jelas ngebut, deh, di sini. Beberapa kali saya intip speedometer hingga kecepatan hampir 170 km/jam. Enggak usah dibayangkan seperti apa. Hahaha. Satu lagi, nih, mungkin sekitar setengah tahun lalu jalan menuju pantai-pantai di pesisir Kebumen rusak total. Namun, kemarin itu jalan sudah bagus, sudah mulus. Baguslah!

Sekitar magrib, di sekitar Adipala, Cilacap, kami mengganjal perut dengan makan soto ala Tegal yang cukup enak di warung pinggir jalan. Sepanjang perjalanan itu, saya perhatikan langit. Banyak kelap-kelip di atas sana. Apakah itu layang-layang dengan lampu LED, ya? Tapi, stagnan sih. Mungkin ada yang bisa bantu jawab? Hehehe. Hanya di daerah itu kami melihat pemandangan di langit seperti itu. Lumayan banyak, lho!

Dua jam kemudian, menjelang pukul 9 malam kami masuk Pangandaran. Berhenti enggak jauh dari gerbang pantai, kami dihampiri ojek yang menawarkan kamar hotel. Hehehe. Jelas kami tolak. Sejak berangkat Bapake sudah berencana untuk makan seafood di Pangandaran. Bapake tanya mbah Google, ada warung seafood di urutan teratas. Namun, kami cari sesuai petunjuk enggak ketemu! Aneh, nih. Akhirnya, kami ke warung seafood Karya Bahari yang pernah kami datangi bersama anak-anak, letaknya enggak jauh dari pantai. Meski sudah di atas pukul 8 malam, warung makan masih ramai. Berhubung cuma berdua, kami enggak pesan banyak, hanya dua macam ikan. Mahal juga, makan berdua habis Rp130.000-an. Alhamdulillah, enak.

Ketika pesan kamar via salah satu aplikasi pemesanan hotel, saya sudah titip pesan bahwa kami akan datang terlambat sekitar magrib. Namun, ternyata molor banget. Hehehe. Dari Pantai Pangandaran ke Java Lagoon menurut google maps, sih, enggak jauh, sekitar setengah jam. Kami melewati daerah yang cukup gelap, lalu jalan raya, lalu masuk perkampungan. Menjelang sampai, saya sempat melihat ada tanda masuk di sisi kiri, tapi Mbah Googlemaps berkata lurus saja. Ya sudah, kami ikuti saja. Kami masuk perkampungan yang sudah sunyi senyap sekitar pukul 10 malam itu. Dan, saya sudah menebak, wah ini kami diajak muter sama Mbah Google.

wp-1502490475561.
Dan, baru ngeh dengan sign system awas Malaria setelah melihat foto ini!

Akan tetapi, lega rasanya begitu melihat gerbang Java Lagoon. Lebih lega dan senang lagi ketika kami disambut dengan sangat ramah oleh seorang bule, yang belakangan saya ketahui orang Prancis. Saya pastikan pesanan kami setelah meminta maaf atas keterlambatan kami. Ternyata masih ada satu tamu lagi yang belum tiba. Syukurlah. Lebih senang lagi ketika kami masuk kamar dan ternyata kamar kami di-upgrade! Alhamdulillah. Bisa tidur nyaman nih, dengan AC. Wkwkwkwkw. Pemiliknya pun mempersilakan kami parkir di garasi miliknya yang berkanopi. Katanya, biar motornya enggak kehujanan. Hehehe. Alhamdulillah, satu tujuan sudah tercapai. Malam itu kami istirahat dengan nyaman meski sempat terbangun oleh kedatangan tamu kamar sebelah yang suaranya terdengar hingga kamar kami.

wp-1501046944889.
Sederhana, tapi nyaman, plus murah! Sangat direkomendasi.

Keesokan paginya, kami baru bisa melihat pemandangan di sekitarnya. Ternyata cuma ada enam kamar dengan ukuran yang sama. Kompleks hotel kecil yang menurut kami nyaman. Mirip-miriplah dengan hotel yang pernah kami inapi di Candidasa. Di sisi kiri bangunan, sudah terlihat laguna yang tampak surut, tidak seperti di foto situs web.

wp-1503044957452.

wp-1503045068058.
Dari laguna. Sayang, agak kotor. 

 

Sambil membawa minuman dan roti, sekitar pukul 6.00 pagi, kami berjalan menuju laguna dan pantai. Langit pada pagi itu kurang bersahabat. Gloomy. Kalau kata Bapake, kayak di Inggris aja. Hehehe. Sebagai pencinta pantai pasir putih, saya pribadi biasa saja dengan pantainya. Berjalan agak ke timur, kami duduk di sebilah kayu menghadap pantai panjang berpasir hitam sambil mengganjal perut. Ditemani pula dengan suara gonggongan beberapa anjing di sisi kiri kami.

 

 

 

 

 

 

 

wp-1503050616072.

Laguna yang surut dan ternyata berlumpur. Bapake sempat tertahan di tengah situ.

wp-1503044979366.
Pantai Karang Tawulan.

Setelah mengganjal perut, kami berjalan ke arah timur menuju muara. Dari kejauhan kami melihat alat tradisional yang besar dan satu-dua orang pemancing di pinggir muara. Merasa penasaran, karena belum pernah melihat sebelumnya, kami berjalan mendekati alat besar itu. Kebetulan, pagi itu ada bapak-bapak yang sedang menjaring ikan. Dengan perahu kecilnya, bolak-balik ia datangi alat yang ternyata alat penjaring tradisional. Kalau kata Bapake, masih primitif. Blas enggak dikasih umpan. Benar-benar hanya menunggu ikan lewat yang terjaring. Tapi, alatnya memang bikin takjub. Hehehe.

wp-1502490522363.
Klik dan geser untuk lihat videonya.

wp-1503045025781.

wp-1503052429801.

Rasanya kok santai banget, ya, di situ. Warna airnya bagus, arusnya tenang. Hijau, deh! Cukup lama kami mengamati teknologi menjaring yang tidak kami temui di Jawa Tengah sekitarnya. Pagi itu enggak banyak ikan yang didapat dalam sekali penjaringan. Berhubung perut sudah minta diisi sarapan, langit juga tampak gelap, dan kami harus segera berangkat ke Kampung Naga, kami kembali lagi ke hotel.

wp-1503052451748.
Sarapannya mengenyangkan dan enak, lho. Apalagi ditambah teri crispi. Hihihi. *bisa cek IG-nya Ayumanis Food.

Namanya juga hotel kecil. Jangan harap ada menu prasmanan. Menunya hanya lokal dan barat. Hehehe. Tapi, sarapan bisa diantar ke teras kamar dan dibawa ke tepi laguna. Setelah menikmati sarapan di tepi laguna, kami mandi dan bersiap-siap menuju Kampung Naga. Namun, begitu lihat jendela ke luar, ternyata hujan! Alangkah sedihnya saya pagi itu. Apalagi melihat aplikasi cuaca yang menandakan daerah di sekitar sana hujan. Yah, masa enggak jadi ke Kampung Naga, sih?

 

*bersambung

Advertisements

Demi Surga Tersembunyi di Trenggalek

Karena sudah “sakaw” dengan riding dan touring, hari libur sehari dipakailah untuk touring. Padahal, keesokan harinya Bapake kudu berangkat pagi ke Solo, hehehe. Mau enggak mau, kami harus pulang hari itu juga. Tapi, ya, namanya juga emak-emak, saya tetap saja menyiapkan baju ganti kalau-kalau ada halangan (biar agak ngirit, enggak usah beli baju kayak waktu di Seru, Tapi Menderita, wkwkwkwk. Seperti biasanya juga, kami belum menentukan hendak ke mana. Pokoknya ke timur! Nah, kali ini kami bisa berangkat agak pagi meskipun rencana Bapake sih berangkat habis subuh! Hahaha.

Kenyataannya adalah kami berangkat pukul 7.00 pagi. Seperti biasa juga kami lewat jalur biasanya kalau ke timur. Eh, tapi … ketika akan naik menuju Petir, ada papan pemberitahuan bahwa jalan ditutup! Eng-ing-eng. Ini jalan lumayan ngeri-ngeri sedaplah.

IMG_20170525_075316
TOTAL!

Dengan pedenya Bapake ambil kiri, berbekal insting (haiah) mengikuti arah matahari bersinar (iya, po?). Tapi, lama-lama kok makin berasa jauh dari tujuan? Hingga tersadar, kok kami malah masuk wilayah Kalasan/Prambanan? Wah…..salah jalan, nih! Akhirnya, tanya juga sama Mbah Google jalan menuju Wonogiri. Tapi, Mbah Google maunya kasih petunjuk lewat Solo! Enggak maulah Bapake kalau lewat Solo!

Ya sudah, pilihannya adalah balik ke arah jalan ditutup. Pokoknya enggak mau lewat Solo seperti yang disarankan oleh Mbah Google! Titik! Hihihi … ketemu lagi deh sama truk yang berhenti karena muatannya diturunkan. Begitu sampai di jalan yang ditutup, baru deh tanya sama mas-mas yang saat itu ada di sana. Benar, kok, jalannya itu, nanti belok kanan, begitu katanya. Baiklah, balik lagi kami ke arah tadi. Ketemu lagi deh sama truknya tadi. Hehehe. Ternyata, eh, ternyata … kami kebablasan jauh dari semacam pertigaan. Ya iyalah, kalau terlalu bersemangat ngegas, enggak merhatiin tanda yang ada di kanan jalan, ya enggak tahu bahwa ada tanda seuprit (kayak nama saya aja) dan seadanya yang dipasang di tiang. “Capcay” deh …. “Kebuang” deh sekitar setengah jam perjalanan.

Ah, begitu masuk jalan situ, kelihatan deh kami mendekati menara-menara televisi yang berjibun itu. Yuhu, kami di jalan yang benar. Hehehe. Nah, yang menarik dari arah sini adalah rutenya ternyata tembus ke jalan alternatif yang sering kami lihat di sisi kiri jalan menjelang Gunung Purba Nglanggeran kalau dari jalan yang ditutup tadi itu. Jalan yang belum jadi itu konon adalah penghubung dari arah Prambanan menuju Gunung Kidul sehingga tidak perlu melewati Bukit Bintang. Jalannya gede banget!!!! Padahal, jalannya masih bopeng sana sini, hancur, alias offroad, deh. Menjelang Gunung Purba, jalannya baru agak mulus. Entah deh ini bakal jadi kapan. (video ada di sini https://www.instagram.com/p/BUlPOpWB3Q-/?taken-by=pritameani).

Berhubung tadi sebelum berangkat cuma mengganjal perut dengan roti, kami memilih untuk sarapan di Warung Makan Nasi Merah Padi Gogo, Semanu. Sudah lama banget kami enggak makan di sini. Mungkin dua tahun. Tempatnya sudah jauh berubah.

IMG_20170525_084019_HDR
Menu nasi merah, sayur lombok ijo, lauk ayam goreng kampung, dan kripik belalang habis 77 ribu! Belalang lebih mahal daripada ayam kampung, saudara-saudara!

Setelah makan, kami langsung lanjut. Kami melewati Pracimantoro dengan jalan nasionalnya yang masih saja belum beres, tapi sudah ada perkembangan sih.

IMG_20170525_093622_HDR
Jalan yang sudah “mendingan” dibandingkan sebulan yang lalu.

Jalan lebar banget ini sudah enggak terlalu hancur seperti sebulan lalu (apalagi setahun lalu) meski masih offroad gitu, deh. Saya memperkirakan kami akan tiba di Pacitan sebelum jam makan siang. Jadi, kami tidak makan siang di RM Bu Gandos kali ini. Saya dadah dadah begitu melewati Bu Gandos!

Nah, kali ini keinginan saya untuk melihat Pantai Soge terwujud. Yeay! Tapi, kami enggak turun ke pantai. Pemandangannya justru bagus dari atas, begitu hendak menuruni jalan mulus di pinggir pantai. Pantai Soge ini termasuk pantai yang bisa dilihat dari pinggir jalan raya. Enggak banyak pantai di Jawa bagian selatan yang bisa dilihat dari pinggir jalan.

Untung ada warung makan kecil yang cukup strategis untuk menikmati pemandangan indah pantai dari atas. Berhubung hari itu kami belum minum kopi dan masih kenyang sarapan, kami cuma minum kopi sambil menikmati angin dan pemandangan laut lepas. Hanya sekitar setengah jam kami habiskan waktu di bukit Pantai Soge.

IMG_20170525_111324_HDR
Pantai Soge.
IMG_20170525_113921_HDR
Ini pantai tersembunyi, semacam teluk kecil, di sisi kanan, terlihat dari bukit.

Kembali ke atas jok motor, kami lanjut dengan tujuan pantai setelah Pantai Pelang di Trenggalek. Saya sempat googling dan menemukan pantai pasir putih Trenggalek. Kalau menurut Mbah Google, tempatnya masih jauh dari Soge. Tak apalah, kami coba saja dulu. Pokoknya menuju Trenggalek. Nah, kali ini menjelang PLTU Pacitan, Bapake mengingatkan untuk menyiapkan kamera, dan Bapake berhenti begitu PLTU sudah di depan mata. Hahahaha. Masa kali ketiga lewat sini enggak motret juga? T.E.R.L.A.L.U! Sebenarnya, sih, lebih bagus kalau difoto dari atas motor. Hehehe.

 

Sekitar 1 jam dari PLTU kami sudah masuk Trenggalek. Saatnya bertanya pada Mbah Googlemaps. Tapi, Bapake enggak mau benar-benar mengandalkan si mbah Google. Baiklah. “Di balik jalan yang susah ada surga yang tersembunyi.” Hahaha. Saya di belakang sambil melihat peta alias Mbah Googlemaps. Lama-lama kami keluar dari jalan utama, melewati jalan yang cuma terlihat garis putih tipis di peta. Inilah yang terjadi. Hahaha.

 

Ketemu jalan yang rusak lagi, saya masukkan lagi ponsel, konsentrasi berpegangan pada Bapake. Kembali ke moto tadi, “Di balik jalan yang susah, ada surga yang tersembunyi.” Bagaimanakah, saya penasaran dengan posisi kami. Ternyata…kami masih jauh!!!!

 

Saya agak pesimis ketika melihat posisi kami di peta. Apalagi, medan jalan yang naik turun, jalan rusak, yang memperlambat jarak tempuh. Ya sudahlah pantai mana saja, deh. Sinyal kembang kempis pula, peta Mbah Google kadang hilang. Ya sudah, pakai insting saja mengikuti jalan hingga masuk perkampungan. Akhirnya, kami bertemu penduduk setempat, dua gadis ABG yang berboncengan motor. Mereka menyebut dua pantai terdekat dari posisi kami. Pantai yang satu, kami harus balik arah sedikit, sedangkan pantai yang satu lagi, kami semakin menjauh dari Jogja. Akhirnya, kami menjauh dari Jogja atas rekomendasi mbaknya.

Satu hal lagi nih, ukuran penduduk setempat dengan kami itu berbeda. Mungkin juga dengan kebanyakan travellers, ya. Mereka bilangnya dekat, hanya 10 kilometer (misalnya), ga sampai 30 menit,  kenyataannya adalah hampir dua kali lipatnya. Bagi kita, ukuran dekat mereka itu ternyata jauh. Hehehe. Itulah yang terjadi ketika kami mencari Pantai Ngadipuro. Apalagi dengan petunjuk seadanya.

Jalan 75% hancur dan memang enggak mungkin dilewati mobil kalau dari arah kami karena sempit juga. Namun, kami akhirnya melewati jalan yang cukup besar. Perkampungan yang cukup ramai. Di situlah Bapake baru sadar bahwa lampu tambahan di depan crashbar-nya lepas. Ini pasti karena melewati jalan yang ampun deh. Berhentilah kami sejenak; Bapake berusaha benerin, tapi ternyata enggak bisa 100%.

 

Sebenarnya, kalau saya lihat peta, posisi kami berhenti itu sudah enggak jauh dari pantai. Tapi, dari mana akses masuknya, ya? Berhubung Bapake pede, kami lanjut saja ke arah timur hingga ketemu lagi jalan menyempit dan jelek. Agak ajaib ini kalau mobil lewat sini. Lupakanlah kalau mau ke sini naik mobil besar ataupun ceper. Mau naik mobil besar, bisa pusing kalau pas berpapasan. Mungkin paling pas naik mobil semacam Suzuki Carry atau pikap. Btw, Carry tuh seperti Supra, lho, di desa-desa. Ramping, mesin bandel, no worries, deh. Hehehe.

Akhirnya, pada suatu titik kami merasa ragu, sepertinya kami semakin menjauh dari pantai. Kami pun bertanya kepada seorang bapak-bapak yang lewat. Ternyata benar, kan. Kami kelewat!

IMG_20170525_134752_HDR
“Malu bertanya, sesat di jalan.”

Bapak itu menawarkan kami mengikuti dia sampai jalan masuk pantai. Haia, ternyata jalan masuknya enggak jauh dari tempat kami berhenti untuk memperbaiki lampu depan! Sebelum masuk, kami mampir ke warung untuk beli minuman. Bapak penjual bilang bahwa di pantai itu enggak ada warung makan. Waduh. *Btw, ada mobil yang sedang menurunkan muatan warung. Hmmm … dari mana, ya, masuknya?*

IMG_20170525_135247_HDR
Jalan kecil yang agak rusak menuju pantai.

Kami putuskan untuk tetap ke pantai yang dinamai Ngadipuro. Wuih …. cantik! Ternyata yang kami tuju itu adalah kampung nelayan! Berjajar dengan rapi perahu nelayan dengan pemandangan gugusan pulau di kejauhan. Beberapa kali kami ke kampung nelayan (pantai yang ada perahu nelayannya), dan ini adalah pantai dengan pemandangan terindah di antara yang pernah kami datangi. Sayangnya enggak ada warung untuk makan atau bahkan sekadar minum kopi. Sepertinya enggak ada pengunjung lainnya, nih. Benar-benar kampung nelayan. Satu hal sih, pemandangan di belakang perahu mengingatkan saya pada pantai di Candidasa, tapi tanpa perahu nelayan. 🙂

IMG_20170525_141152_HDR
Perahu nelayan berjajar rapi dengan pemandangan gugusan pulau.

 

wp-1498731002208.

 

Ada yang menarik, sih, di sini. Bapake dengan pedenya memarkir motor di pasir. Dan, inilah yang terjadi. Hehehe.

Dari perbincangan dengan bapak nelayan, kami tahu bahwa pantai ini memang bukan IMG_20170525_144002_HDRpantai wisata. Ini memang kampung nelayan. Kalau mau cari yang ada makanannya, ya, ke Pantai Blado, di seberang sana yang terlihat dari tempat kami berada. Katanya, sih, enggak sampai setengah jam. Oh, baiklah. Saya juga sudah mulai lapar!

Setelah melewati jalan yang jelek tadi, akhirnya kami memasuki jalan bagus, dan … keluar di jalan raya! Mulus! Keluar di jalan raya, enggak jauh kemudian, kami menemukan pantai yang dimaksud bapak nelayan tadi. Sebelum gerbang masuk pantai ada warung makan yang tampak cukup oke. Tapi, kami masih penasaran dengan pantai, siapa tahu di tepi pantai ada warung makan seafood. Dari jalan raya enggak jauh kok masuknya. Sayangnya, setelah menyusuri tepian pantai, tidak ada warung makan seafood yang buka! Ada sih warung biasa. Yah, sudah di tepi pantai, masa makannya bukan seafood? Hehehe.

 

IMG_20170525_151100_HDR
Dari atas motor ketika mencari warung makan.

Berhubung sudah lapar, kami putuskan untuk kembali ke depan dan makan di warung yang berada di samping gerbang. Makan siang telat ini judulnya. Kami enggak berekspektasi apa-apa kalau makan di warung yang kami enggak dapatkan rekomendasinya dari siapa pun. Semoga enaklah. Untungnya di sana ada menu seafood yang dinamakan nasi paprika. Untungnya lagi, nih, penjual warung bilang ada menu tambahan ikan asap. Hore! Alhamdulillah makanannya enggak mengecewakan, lho. Dimasak dengan serius.

IMG_20170525_153741_HDR.jpg
Untuk ukuran warung makan dekat pantai, menu ini enak (ditambah lagi kesegaran udang dan ikan asapnya yang dari ikan segar), dan terjangkau, sekitar Rp 60.000 dengan soda gembira dan kopi.

Setelah makan, meluruskan kaki, mengobrol dengan pemilik warung, dan shalat, kami kembali ke pantai. Sudah sampai sana, masa enggak turun? Pantai ini kece juga meski bukan pasir putih. Tenang pula. Ada seorang anak bermain layang-layang. Beberapa anak muda, dan 1-2 keluarga kecil. Tampak juga muara di ujung pantai dan sepertinya bisa naik perahu dari muara ke laut, seperti di sebuah pantai di Pacitan (ah, saya lupa, kalau sudah ingat, saya perbarui deh).

wp-1498730994929.IMG_20170525_163603_HDR

IMG_20170525_164604_HDR

IMG_20170525_163054
Tenang dan sepi padahal hari libur.

 

Sungguh, saya masih berharap akan menginap di tengah perjalanan mengingat jarak yang cukup jauh dari Jogja. Duh, masih sekitar 6 jam perjalanan, sedangkan saat itu sudah pukul 5.00 sore! Tapi, jadwal besok sudah menanti! Haia. Sebelum pulang, saya sempatkan beli ikan cakalang asap yang dijual di warung depan pantai.

IMG_20170525_164128_HDR
Berbagai ukuran, beda harga. Ukuran sedang hanya Rp25.000/3 ekor. Murah, kan?

Sesuai saran pemilik warung tadi, kami enggak melewati Kota Trenggalek, tapi langsung tembus sampai ke Ponorogo. Kalau setahun lalu kami lewat Kota Ponorogo, kami makan satai. Tapi, tahun ini kami lewati saja karena masih kenyang dan belum cukup malam untuk makan malam. Oh iya, dalam perjalanan menuju Ponorogo, menjelang magrib, di antara perbukitan, Bapake bertanya-tanya apakah yang dilihatnya di kejauhan itu batu yang sama ketika kami menuju Ponorogo tempo hari? Menurut saya, sih, bukan.

wp-1498053949334.
Ternyata memang bukan. Hehehe.

Semakin ke barat, semakin malam, saya mulai lelah (dan semakin berharap akan menginap, hehehe). Bapake juga bertanya beberapa kali tentang kondisi saya karena pada perjalanan sebelumnya saya tepar. Hehehe. Alhamdulillah langit cerah sepanjang perjalanan kami. Saya bisa menikmati bintang-bintang di langit meski enggak seperti di wallpaper ponsel. Hehehe.

Akhirnya, sekitar pukul 9.00 kami berhenti untuk makan malam di Kota Wonogiri. Karena lelah, pengin makan yang enak dan nyaman, kami putuskan untuk makan di Restoran Padi. Restoran ini terlihat ramai sehingga menarik untuk dikunjungi. Dengan menu Chinese Food (rata-rata Rp25.000 satu menu, bisa buat berdua) dan untungnya di sebelah ada toko kue dan kedai kopi, kami makan dan beristirahat sejenak. Saya pribadi merasa terbantu dengan rebahan sejenak di sofa kedai kopi dan minum beberapa teguk kopi yang dipesan Bapake.

Akan tetapi, Jogja sudah memanggil-manggil kami. Agenda besok pagi sudah terbayang. Pukul 10.00 malam, ketika restoran sudah mulai tutup, kami lanjut ke Jogja dengan sisa tenaga. Alhamdulillah sampai di rumah pukul 11.30. Pengalaman pertama kami menempuh perjalanan bolak-balik selama 16 jam, sekitar 450 km. Butuh fisik yang kuat memang (halo, olahraga!!!!). Sepertinya perlu diagendakan untuk mengeskplorasi Trenggalek dan sekitarnya, mewujudkan berkunjung ke pantai yang saya kasih bintang di peta. Yang ternyata masih sekitar 50 km dari Pantai Blado. Tentu saja dengan menginap semalam biar puas dan enggak kecapekan. 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Selamat Idulfitri 1438 H. 

Selamat merayakan hari raya Idulfitri 1438 H bersama orang-orang terkasih. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt dan dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya.  

Maaf jika dalam penulisan perjalanan ada yang kurang detail, keliru, atau kurang berkenan di hati pembaca. 🙏 Semoga ke depannya saya bisa lebih baik dalam menulis dan memutakhirkan blog. Plus lebih sering riding sama Bapake. 😘

Seru, Tapi Menderita

Duh, judulnya kok begitu amat? Namun, begitulah kenyataan perjalanan kami seminggu yang lalu bagi saya. Seperti biasanya, ketika anak-anak dengan sukarela minta bermalam di rumah neneknya, keesokan harinya, yang ada di benak kami adalah Yuk, riding! Mau ke mana? Saya benar-benar pasrah pagi itu. Hehehe. Pagi itu saya masih mengurus pesanan konsumen sehingga akhirnya baru berangkat pukul 9.00 pagi!

Keluar dari gang rumah, Bapake mengarah ke timur. Oke, itu artinya akan ke daerah timur. Baru di pom bensin Bapake bilang bahwa kami akan makan siang di Pacitan. Lalu, seperti biasanya, kami lewat Gunung Purba Nglanggeran untuk tembus ke Patuk GK. Ketika melewati objek itu, eh, ada yang menarik pada hari itu (Sabtu). Para petugas/penjaga objek wisata itu mengenakan pakaian tradisional Jawa! Mereka mengenakan beskap lengkap dengan blangkon. Wah, dalam rangka apa, ya? Ah, sayang saya enggak terpikir untuk mengabadikannya.

Seperti caption di IG pribadi saya (@pritameani), touring/riding itu seperti candu. Dulu awal-awal memulai hobi touring/riding ini, perjalanan ke Patuk saja terasa lama. Hahaha. Sekarang, mah, terasa cepat saja. Seperti sudah hafal saja. Tapi, kalau saya disuruh mengulang sendiri, hmmm … kayaknya juga enggak ingat jalannya. Hahaha. Bagi saya pun, enggak ada yang baru untuk diceritakan hingga menjelang Pasar Pracimantoro.

Nah, ini dia. Menjelang Pasar Pracimantoro, lalu lintas macet! Baru kali itu, deh, dari sekian banyak melewati pasar ini, terjadi kemacetan seperti itu. Entah penyebabnya apa, tapi bisa juga karena long weekend dan pada hari itu ada pasar hewan di lokasi sebelum Pasar Pracimantoro. Karena tidak sabar, Bapake belok kanan, cari jalan tembus. Tembus hingga ke jalan nasional yang lebar yang biasa dilewati kalau ke daerah timur.

Setahun lalu, ketika kami ke Bali, jalannya lumayan muluslah. Lalu, beberapa bulan setelahnya, ketika riding cuma ingin makan siang di Bu Gandos, jalannya rusak parah dan sedang diperbaiki. Mau tahu kabarnya beberapa bulan kemudian, alias setahun setelah kami ke Bali? Masih rusak! Rusak berat karena masih dalam perbaikan. Haduh haduh …. Saya enggak mau ambil risiko dengan nekad mengambil gambar.

Setelah melewati jalan yang biasanya, kami tiba juga di RM Bu Gandos. Tapi, eh, tapi. Sejam menjelang sampai RM Bu Gandos, saya mendadak mual. Saya merasa lapar. Saya merasa asam lambung saya naik! Saya merasa kepala saya menegang. Oh tidak! Sepertinya sarapan tadi pagi kurang nendang, nih, dan entah kondisi fisik saya malam sebelumnya bagaimana? Saya nyaris saja muntah di atas motor! Duh, enggak kebayang, deh, bakal repotnya kayak apa?! Sungguh, saya berkali-kali menelan ludah. Mau berhenti dan turun, kok, nanggung karena saya tahu kami sebentar lagi akan sampai di tujuan! Beberapa kali Bapake sempat berhenti sebentar hanya untuk mengatur ulang peredam guncangan, tapi saya hanya bisa minum air putih.

Rasanya lega banget ketika kami tiba di rumah makan di pinggir bukit berpemandangan Pantai Teleng Ria itu. Melepas helm modular saya merupakan sebuah kenikmatan ketika itu. Untung saja saya bisa mengatasi rasa mual hebat sehingga enggak muntah begitu turun dari motor. Hal berikutnya yang saya inginkan adalah minum teh manis panas!!!

Baru kali itu, saya ingin benar-benar merebahkan diri di karpet lesehan. Saya butuh menyandarkan kepala saya, tapi saya lapar!!!! Astaga …. Beberapa teguk teh panas yang kemanisan sedikit membantu gejala enggak enak badan saya. Sayangnya di RM Bu Gandos tidak ada menu kuah panas segar. Di sana hanya ada gulai tuna yang memakai santan. Ah, tidaklah kalau begitu. Makan nasi dengan satai tuna dan udang goreng sajalah.

Setelah makan dan minum teh panas berkali-kali, perut saya terisi. Tapi, saya masih merasa kurang nyaman hingga akhirnya Bapake menyarankan untuk minum minuman bersoda. Haia …. sekali teguk saya langsung beserdawa! Saya, kan, bukan peminum minuman bersoda. Hehehe. Setidaknya, itu cukup membantu keadaan saya. Sementara itu, Bapake pergi shalat Jumat di dekat situ. Seusai shalat Jumat, Bapake tanya masih kuat untuk lanjut? *ah ini dia bagian dari “kecanduan”*

Ah, bismillah, lanjutlah! Dan, Bapake punya ide untuk ke Trenggalek! Wohohoho! Trenggalek itu setahu saya bisa 5-6 jam kalau dari Jogja. Konon banyak juga pantai bagus di sana. Kemudian, dari Trenggalek, pulang ke Jogja lewat Ponorogo. Nah, untuk menuju Trenggalek, kami melewati Pantai Soge yang berada di pinggir jalan raya.

Setelah membayar sekitar Rp70.000,00 (nasi 2, gulai tuna, satai tuna, udang goreng, lalapan, teh panas 3, minuman soda 1, kopi 1, dan tape ketan), kami lanjutkan perjalanan. Untung saya tadi bawa minyak kayu putih. Saya oleskan dulu di tubuh saya. Siapa tahu ada pengaruhnya.

Ternyata perjalanan menuju Pantai Soge kurang dari 1 jam. Kami melewati pesisir selatan yang indah: perbukitan dan laut, jalan berkelok-kelok. Dalam benak saya, kami akan mampir sebentar di Pantai Soge. Dari kejauhan saya mulai melihat pantai, sepertinya itu, deh, Pantai Soge. Dari pinggir jalan terlihat keindahan pantainya yang pada saat itu pasti sedang panas-panasnya. Eh, apa daya, ternyata kami cuma numpang lewat! Ambil foto sebentar saja enggak sempat. Huhuhuhu. Sepertinya juga karena nanggung, belum ada 1 jam di atas motor, dan kami masih mengejar waktu ke Trenggalek. Bayangan Bapake, sih, biar tidak kemalaman tiba kembali di Jogja.

Jalan yang mulus sejak memasuki Pacitan, di sisi kanan jalan kadang pepohonan, bukit, dan laut, menjadi teman kami siang itu. Masyaallah, begini ini indahnya Indonesia di pesisir selatan. Jalan yang kami lewati dari RM Bu Gandos ini bukan jalan yang sama kami lewati ketika kami berangkat touring ke Bali. Kami menyusuri jalan pinggir pantai selatan. Namun, pada suatu titik kami melalui jalan yang akhirnya mempertemukan kami dengan PLTU Pacitan di pinggir pantai.

Ah, dengan kepala yang  belum 100% membaik dan ponsel baru yang ternyata tidak bisa disetel sensitif terhadap sarung tangan (juga baru kali itu riding dengan itu sehingga belum terbiasa), saya pun gagal mengambil gambar menara PLTU dengan latar pantai selatan. 😦 PLTU itu menjadi penanda bahwa kami sudah hampir memasuki Kabupaten Trenggalek. Ah, saya sebal sekali, dua kali lewat sana dan dua kali pula enggak bisa ambil foto! Dadah babay, deh!

Akan tetapi, setelah 1,5 jam perjalanan, saya mulai merasa tidak nyaman dengan kepala saya. Oh, tidak! Ada apa ini? Masuk anginkah? Atau kenapa? Rasanya sungguh tidak nyaman. Apalagi saya mengenakan helm modular yang lebih berat daripada versi helm full face merek yang sama. Saya butuh tidur! Saya butuh tidur! Saya butuh tidur!

Akhirnya, ketika mulai memasuk pedesaan di Kabupaten Trenggalek, saya toleh kanan dan menemukan plang petunjuk menuju sebuah pantai. Saya langsung senggol Bapake, minta untuk istirahat. Lalu, kami berbalik arah dan menuju Pantai Pelang. Dari plang Pantai Pelang menuju pantainya sendiri enggak terlalu jauh, enggak sampai 15 menit. Ikuti saja jalan utamanya sampai ketemu pos retribusi yang untuk berdua dan motor tidak sampai Rp20.000,00. Saya begitu lega ketika akhirnya mulai lihat parkiran. Kami disuruh parkir pas sebelum jembatan menuju pantai dan langsung dimintai sumbangan seikhlasnya untuk parkir.

Enggak ada bayangan sama sekali seperti apa pantai yang tiba-tiba kami kunjungi ini. Untuk menuju pantai, kami harus melewati jembatan. Kami ikuti saja orang-orang yang sudah duluan jalan. Di sisi kanan kami tegak berdiri tebing, di sisi kiri pantai, dan di bawah kami air. Enggak lama kemudian ada beberapa gazebo, tapi masih agak jauh dari pantai. Bapake sempat bertanya apakah mau tiduran di gazebo atau cari tempat lain. Saya bilang, lanjut saja dulu.

 

Nah, ketika lanjut itu, kami baru sadar … ini gimana caranya menyeberang ke pantai, ya? Sisi kanan juga agak ramai dan belakangan kami baru tahu bahwa di situ ada juga air terjun dan lebih banyak orang yang ke sana daripada ke pinggir pantai. Jalan terus, mentok, tidak ada penyeberangan lagi. Satu-satunya cara untuk menuju pinggir pantai adalah jalan di pasir yang basah dan di beberapa spot tergenang oleh air laut.

IMG_20170414_150019_HDR

Baiklah! Dengan sepatu bot, ransel, dan tentengan helm, kami mencari-cari celah supaya sepatu kami tidak terlalu basah ketika berjalan di atas pasir. Yang kami tuju adalah spot di balik tebing, yang tampak bisa ditiduri. Hehehe. Setelah sedikit loncat sana sini, kami sampai di tujuan. Hanya ada satu keluarga kecil, sepasang bapak ibu dan seorang anak balita, yang bersiap-siap pulang. Kami langsung cari tempat untuk menaruh ransel dan helm, lalu Bapake menggelar jaketnya di atas pasir. Saya pun langsung merebahkan diri di atas jaket Bapake dan jaket saya.

 

IMG_20170414_142959_HDR.jpg
Just the two of us! 

Saya kasih tahu, ya …. Masyaallah, enak banget tiduran di situ! Kami tidak langsung kena matahari alias teduh. Kami tiduran di atas pasir lembap. Di belakang kami pepohonan yang tumbuh di atas bukit/tebing kecil. Lalu, di depan kami pemandangan laut di antara dua batu karang! Di atas kami sesekali burung melintasi kami. Oh iya, enggak ada sinyal ponsel di sini. Hehehe. Mungkin sekitar 10 menit saya tertidur. Alhamdulillah. Lumayanlah saya bisa merebahkan kepala yang eror itu. Menyadari sudah sekitar setengah jam kami bersantai di pantai, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Bapake hanya mikir, supaya kami tidak terlalu malam sampai di Jogja. Baiklah.

Keluar dari parkiran, saya sempat ditawari Bapake untuk minum penolak angin. Hehehe. Tapi, ketika itu saya cukup merasa nyaman setelah turun mencari di warung dan enggak ada obat antimasuk angin itu. Bismillah saja. Lanjut sesuai rencana Bapake ke Ponorogo. Di persimpangan, kami harus memilih, dan setelah bertanya kepada seorang bapak-bapak, kami ambil kiri. Ternyata jalannya masuk ke perkampungan, perbukitan, yang akhirnya membuat Bapake harus bertanya pada Mbah GPS. Hehehe.

IMG_20170414_153232_HDR
Sementara Bapake cari rute, saya melihat sekeliling.

 

Setelah mendapatkan petunjuk dari Mbah GPS, kami tancap gas lagi menyusuri perkampungan di antara perbukitan yang berkelok-kelok. Semakin lama, udara terasa dingin dan jalannya mengingatkan pada perjalanan menuju Bromo, di sekitar Tosari. Ah, setahun yang lalu itu. Suasana seperti itu kami alami hingga mata kami tertuju pada sebuah objek besar … objek raksasa, yang entah bisa disebut apa, dan membuat kami berhenti. Namun, kami masih tetap di atas motor. Hehehe.

Kalau ditanya ini di mana, kami enggak tahu. Sinyal juga hilang timbul. Benar-benar berasa di antah-berantah. Namun, setelah bertanya pada Mbah Google, kami baru tahu bahwa nama objek itu adalah Watu Semaur dan terletak di Ngrayun, Kabupaten Ponorogo. Monggo dicari letak persisnya di Maps, ya.

Karena pernah ke Ponorogo dalam perjalanan pulang dari Blitar, saya sempat terpikir bahwa kami akan makan satai lagi. Hehehe. Tapi, kok, sepertinya terlalu cepat juga karena ternyata sore kami sudah tiba di Kota Reog itu. Pemandangan atribut reog menjadi teman perjalanan kami kali itu. Bahkan, ada mobil yang siap-siap hendak pulang membawa perlengkapan pentas yang telah usai. Yah, kami enggak sempat melihat pertunjukan reog, nih.

Daerah selanjutnya dari Ponorogo adalah Wonogiri. Di benak saya, di Wonogiri kami akan makan di pinggir Waduk Gadjah Mungkur. Makan ikan air tawar dengan pemandangan waduk buatan pemerintah itu meski gelap. Hehehe. Namun, apa daya … semakin sore, saya malah semakin pusing! Karena haus dan ingin ke WC, kami berhenti di sebuah minimarket. Sambil menunggu saya mengganjal perut dan minum obat anti-masuk angin, Bapake shalat Magrib di masjid seberang jalan.

IMG_20170414_174805_HDR
“Minimarket penyelamat”.

Setelah mengganjal perut, saya merasa baikan. Namun, sebelum masuk Wonogiri, saya merasa enggak enak lagi. Saya minta Bapake untuk berhenti supaya bisa mengisi perut. Mungkin dengan makan, keadaan saya membaik. Kami pun mampir di warung bakso yang tampak ramai dan besar pula tempatnya. Jogja masih sekitar 2-3 jam dari tempat kami makan malam. Sementara itu, hari sudah mulai gelap.

Sambil menunggu pesanan, saya pun bilang ke Bapake bahwa saya enggak sanggup melanjutkan perjalanan. Bahkan, kacamata minus 4 dan slindris 1,5 pun saya lepas. Itu tandanya saya sudah sangat enggak nyaman. Kali ini saya menyerah dalam perjalanan ini! Pokoknya saya ingin segera tidur. Namun, seketika saya ingat bahwa kami pergi tanpa bawa apa-apa, selain dompet, minuman, kain pembersih kaca helm, dan pengatur DB killer knalpot! Cas ponsel pun saya enggak bawa padahal sempat terpikir untuk bawa. Haia. Baterai ponsel Bapake tinggal 10%, sedangkan punya saya masih 30%.

Melihat kondisi saya, Bapake memutuskan untuk bermalam di Wonogiri. Dengan sisa baterai ponsel, kami tanya Mbah Google alamat penginapan di Wonogiri. Bapake pengin di sekitar Waduk Gadjah Mungkur. Agak susah mencari penginapan di sekitar Waduk Gadjah Mungkur karena keterbatasan informasi di dunia maya. Selesai makan, kami menuju Kota Wonogiri untuk membeli baju dan perlengkapan lainnya.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 7.00 malam ketika kami mulai mencari penginapan di sekitar waduk. Penginapan pertama di sisi kiri jalan, yang sesungguhnya punya pemandangan bagus menghadap waduk, ternyata sudah penuh dipesan pelanggan. Kamar yang tersisa seharga Rp100.000,00 adalah kamar yang tidak menghadap waduk, kamarnya kecil, ventilasi udara tidak jalan dengan baik, tidak ber-AC, dan bau asap rokok. Oh, tidak. Kami pun mencari penginapan lain.

Sesuai info Mbah Google, dan sempat kami hubungi ketika makan, kami memilih untuk bermalam di Penginapan Sendang Asri. Di sana ada kamar ber-AC, cukup luas, kamar mandi di dalam, relatif tidak bau rokok, meski fasilitas dan kebersihan seadanya. Plus agak seram sekitarnya karena gelap dan sepi. Lupakan kenyamanan hotel kelas berbintang, bahkan kelas melati. Hehehe.

Ah, bagi saya itu sudah cukup, yang penting saya merebahkan kepala saya yang terasa amat sangat enggak nyaman! Segera setelah bebersih diri, saya tidur!!! Alhamdulillah, hari itu saya enggak muntah atau terkapar kesakitan. Itu sudah bersyukur, deh.

Keesokan paginya, kami disambut pemandangan Waduk Gadjah Mungkur dari samping kamar kami. Penginapan ini bentuknya seperti kompleks, ada beberapa rumah dan kamar. Kami duduk di pinggir jalan depan kamar dan makan roti yang semalam saya beli di minimarket. “Hiburan” kami pagi itu salah satunya adalah kehebohan ibu pemilik penginapan dan anaknya. Hehehe. Segera setelah mandi, kami mencari sarapan di warung makan pinggir waduk. Teh panas menjadi teman setia saya dua hari ini demi badan saya. Setengah porsi udang, setengah porsi wader, satu porsi urap, satu porsi terancam, dan nasi, menjadi menu kami pagi itu. Ditambah udang goreng dan wader goreng untuk anak-anak, saya harus bayar Rp70.000,00 (sayang fotonya ternyata hilang).

IMG_20170415_074748_HDR - Copy
Waduk Gadjah Mungkur dari atas bukit penginapan.
IMG_20170415_075705_HDR - Copy
Pemandangan dari RM Pak Glinding.

Alhamdulillah, perut sudah terisi dan kami siap pulang ke Jogja! Saya masih ingin melanjutkan tidur saya. Hehehe. Enggak sampai 2 jam, kami sudah sampai rumah dan saya pun ambruk di kasur. :)) Hikmah perjalanan ini adalah dengan saya sakit begitu, kami bisa menikmati Waduk Gadjah Mungkur pada pagi hari. Hehehe. Kadang justru yang enggak direncanakan itu malah seru. 🙂

 

 

 

 

Hari ke-9: Blitar-Jogja. “Demi Satai!”

Apa yang ada di benakmu jika hari itu adalah hari terakhir perjalananmu (baca: travelling atau touring)? Check out, check out, check out! Berkemas-kemas! Ah, libur telah usai! Kembali ke rutinitas! Tumpukan cucian menanti! Tapi, yang jelas: Home sweet home! Tetaplah rumah yang dikangeni, kangen kasurlah, kangen kamarlah, dll. Apa kabar rumah? Apa kabar anak-anak? Apa kabar kucing-kucing? Hahaha.

Jadilah pagi itu kami bersegera. Segera kami mengecek sepatu dan jaket yang kemarin basah banget karena kehujanan. Wah, jelas belum kering 100%. Pernah, kan, pakai sepatu basah? Sepatu bot juga pernah? Haish, akibat persiapan kurang matang dan malas berhenti pakai mantol. Untungnya oleh pihak Hotel Tugu Blitar, kami diperkenankan menjemur sepatu di atas genteng salah satu kamar. *maturnuwun* Meskipun tadi malam dan pagi-pagi sekali sepatu sudah saya keringkan dengan hair dryer, sepatu sebaiknya tetap kena sinar matahari. Agak sedih juga, sih, kedua sepatu bot kulit itu basah kuyup oleh hujan deras selama perjalanan menuju Blitar. (pelajaran lagi nih buat touring lama berikutnya)

 

Hotel Tugu ini memang unik! Suka deh! Hotel ini tidak berbentuk gedung. Dalam kompleks Hotel Tugu Blitar ini ada beberapa klaster, dikelilingi taman yang tertata apik. Pusat dari kompleks hotel ini adalah rumah zaman Belanda yang di dalamnya terdapat kamar bertema Bung Karno, yang kami lewati menuju ruang makan. Salah satu bukti keunikannya adalah ketika jalan dari kamar tidur ke ruang makan saja, kami sudah berhenti sejenak untuk melihat-lihat dan foto-foto. Ada beberapa koleksi yang tadi malam kami tidak melihatnya (Hari ke-8: Baluran-Blitar; Hari yang Melelahkan!), seperti gamelan dan wayang. Sayangnya saya enggak dapat informasi semua koleksi itu dari mana dan sejak kapan.

Setelah sarapan pecel (lagi) dan minum kopi (sayangnya agak beda dengan yang dibikinkan oleh bellboy tadi malam), kami segera mencari oleh-oleh yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel. Lokasinya dekat dengan rumah Bung Karno. Enggak sampai 10 menit berkendara motor, kok. Kami sempat terpikir untuk mampir ke rumah Bung Karno. Namun, kami batalkan setelah melihat ramainya pengunjung dan mepetnya waktu yang kami miliki. Kami masih harus beberes! Belum lagi ketambahan sedikit oleh-oleh dari Blitar. Harap maklum, bawaan kami tidak bisa banyak karena keterbatasan bagasi. Jadi, setelah beli oleh-oleh, melewati rumah Bung Karno, dan keliling sebentar di sekitar situ, kami kembali ke hotel.

Setelah bersusah payah mengemasi barang-barang yang ketambahan sedikit oleh-oleh, kami mengecek sepatu di atas genteng yang ternyata belum 100% kering. Padahal, sudah dibantu dikeringkan dengan hairdryer sampai-sampai alatnya sempat macet. Hehehe. Enggak apa-apa juga, sih. Sambil jalan nanti juga kering kena sinar matahari. Hehehe. Begitu juga dengan jaket dan sarung tangan saya yang masih agak basah. Berbeda dengan jaket dan sarung tangan Bapake sudah waterproof.

Sebenarnya kami masih pengin menikmati suasana santai di hotel yang termasuk tertua di Blitar ini. Salah satu hotel bersejarah juga. Kami hanya menikmati keindahanyang agak spooky­ini pada malam hari. Padahal, saya memperkirakan akan tiba di Blitar sebelum magrib sehingga kami bisa lebih bersantai. Kalau bisa tiba lebih sore lagi, kami bisa juga wisata ke Candi Penataran, bisa juga malah candle light dinner di situ, lho (tapi saya tahu ini enggak mungkin)! Hahaha. Kembali lagi, sih: manusia berencana, Tuhan juga yang menentukan. 🙂

Setelah check out, kami minta difotokan oleh salah seorang penjaga hotel di depan hotel aslinya (rumah tua). Oh, iya … tak lupa saya membeli kopi produksi Hotel Tugu. Enak, lho! Sampai jumpa lagi, Hotel Tugu Blitar! Semoga ada kesempatan lagi untuk bermalam di sana.

DSC_1152
Beginilah penampakan kami di atas motor! :))

Demi Satai!

Tujuan selanjutnya adalah Ponorogo! Ketika berangkat, kami sudah lewat jalur selatan, yang artinya melewati Tulungagung. Kalau saya melihat peta, untuk menuju Jogja, ada beberapa jalut alternatif. Salah satunya adalah melalui Ponorogo. Hal yang terlintas di kepala saya akan Ponorogo adalah satai Ponorogo! Kayak apa, sih? Kok sepertinya khas begitu? Mumpung ada kesempatan untuk melewati kotanya, saya mengusulkan ke kota Ponorogo! Cuma ingin merasakan satainya, lho!

Setelah beberapa jam perjalanan, kami mulai masuk Ponorogo. Bapake sudah mulai tanya kepada saya, di manakah warung makan satai yang enak? Waduh … meneketehe??? Masih di atas motor, saya langsung tanya Mbah Google. Akhirnya, kami berhenti di salah satu warung dekat sebuah bundaran. Dari kejauhan saja sudah terlihat kepulan asap. Tampak banyak motor diparkir di sana. Oke, mestinya ini enak, ya, karena ramai pengunjung?

Ketika masuk warung yang berada di pojokan itu, saya sempat bingung. Ini kok banyak bakul di depan warung dengan nama berbeda-beda dalam satu tempat? Gimana cara pesannya? Ternyata eh ternyata, kita pesan langsung di salah satu bakul satai di depan warung, lalu pesan minum di dalam warung itu. Owh … jadi ini semacam “foodcourt” gitu. Hehehe. Berhubung saya enggak tahu bakul mana yang enak, saya asal pesan saja di salah satu bakul. Ada beberapa bakul yang sudah habis dagangannya dan bersiap-siap tutup.

Setelah menunggu sekian lama ditemani kepulan asap (anginnya ke dalam bok), pesanan satai kami datang. Kami sudah kelaparan karena makan siang yang tertunda hingga menjelang sore. Owh owh … yang bikin satai ini khas adalah di bumbunya yang lembut teksturnya dan kecokelatan warnanya. Enak! Entah saking laparnya kami atau nafsu, ya, kami pesan lagi satu porsi satai tanpa lontong, tapi di bakul lainnya. Ternyata beda tipis dengan yang kami pesan sebelumnya. Alhamdulillah makan siang yang telat ini diakhiri dengan kenyang penuh kenikmatan.

dsc_1160_marked

Misi utama dalam perjalanan pulang terpenuhi! Jadi, yang terpikir di benak Bapake adalah segera tiba di Jogja! Sudah tidak ada tujuan untuk mampir lagi sehingga Bapake langsung tancap gas memilih rute tercepat mungkin. Kami sudah rindu anak-anak, rumah, dan pohon talok kami! Menjelang magrib, kami menikmati sunset di sekitar daerah Gunung Kidul. Menjelang isya, kami sudah tiba di rumah. Home sweet home! Alhamdulillah! Saatnya memanggil tukang pijat langganan! Hahahaha.

DSC_0861

 

 

Hari ke-8: Baluran-Blitar; Hari yang Melelahkan!

Akhirnya, kami harus berpisah dengan Baluran yang sangat berkesan. Yup, satu sore, satu malam, dan satu pagi yang enggak bisa digambarkan keseruannya lewat kata-kata, deh! Harus dicoba sendiri! Setelah mengembalikan kunci kepada petugas, kami berangkat. Masih berat sih, rasanya, tapi kami harus pulang. Ketika melewati hutan menuju gerbang keluar, saya teringat cerita petugas tadi malam bahwa di sekitar situ macan masih eksis. Ups. Enggak kebayang, deh, kalau sedang lewat sana, malam-malam, tiba-tiba berpapasan atau sekadar terlihat wujudnya di antara pepohonan hendak menyeberang jalan. 😀

dsc_1066_marked

Belum lama kami keluar dari gerbang, saya merasa ada yang kurang nyaman dengan bagasi yang letaknya di belakang saya. Namanya juga mendadak ganti motor, persiapannya jadi kurang maksimal, bikin rak tambahan di belakang untuk menaruh bagasi, ya, seadanya dan secukupnya waktu. Hehehe. Ternyata, eh, ternyata tasnya miring ke kiri. Mungkin akibat terguncang-guncang tadi ketika keluar dari Baluran. Stang motor yang diganti di Bali pun jadi semacam penyangga tas biar sebisa mungkin tasnya tidak bergeser.

dsc_0816_1_marked

Tujuan pertama kami begitu keluar dari Baluran adalah mencari sarapan! Setelah meliak-liuk melewati jalan raya, kami masuk wilayah pemukimam sebelum Kota Situbondo. Mata saya mulai waspada mencari-cari warung makan. Akhirnya, kami mampir ke warung pecel nganjuk. Pecel Nganjuk? Iya, selama ini kami tahunya pecel itu pecel madiun dan pecel blitar. Jujur saja, kami kurang ahli membedakan jenis-jenis pecel. Saya pun sudah lupa rasanya. (Maafkeun, kelamaan merangkai cerita juga, sih.) Sarapan pecel di warung kecil pinggir jalan enggak sampai Rp30.000,00 untuk berdua.

DSC_0817_marked.jpg
Pecel Nganjuk. Bedanya apa, ya?

Setelah makan dan minum kopi, kami langsung berangkat menuju Kota Situbondo dengan maksud mencari kantor pos! Kami masih punya kewajiban untuk mengirim kunci rumah sepupu Bapake yang kami tinggali rumahnya sewaktu menginap di Rogojampi. Hehehe. Menginap di Baluran merupakan agenda di luar rencana yang menyenangkan! 🙂 Alhamdulillah.

Sementara Bapake membungkus kunci dan menulis alamat penjaga rumah, saya keluar mengamati Alun-Alun Situbondo. Entah mengapa, saya suka melihat alun-alun kota/daerah yang kami lewati. Selama ini saya tahunya, ya, Alun-Alun Lor dan Alun-Alun Kidul yang jelas-jelas berbeda dengan alun-alun lainnya. Mungkin seharusnya saya serius memotret tiap alun-alun kota yang kami lewati (sayangnya hingga saat ini, fotonya menghilang). Setelah Bapake selesai mengirim kunci, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Blitar! Hotel Tugu, Blitar, sudah menanti kami. Yeay!

Kejar-kejaran

Teringat cerita bertahun-tahun lalu tentang Dampit yang rawan Bajing Lompat, Bapake memutuskan bahwa kami harus segera melewati Dampit sebelum gelap. Bagian ini merupakan salah satu perjalanan seru kami selain dikejar-kejar oleh pengendara motor ketika di area Tosari. Namun, kali ini kami kejar-kejaran dengan waktu. Kami juga kejar-kejaran dengan sebuah motor matic! Hehehe. Motor matic ini sangat lincah di depan kami. Dalam hati saya sudah berpikir bahwa orang ini pasti pemuda setempat. Dia sudah tahu kapan harus pelan, kapan bisa ngebut, bahkan kapan harus angkat bokong ketika melewati jalan jelek! :)) Padahal, jalannya itu naik-turun, banyak belokan, dan jurang! Menakjubkan, deh! Setelah beberapa waktu kami berusaha menyalip dia (tapi gagal), pada suatu belokan di pedesaan, dia berbelok. Tuh, kan, benar! Pemuda setempat! Mungkin kalau di Jogja, dia seperti anak Gunung Kidul yang biasa nglaju Jogja-Wonosari. Hehehe.

Kembali ke perjalanan. Jalan sepanjang hutan, naik-turun, berkelak-kelok, melebar-menyempit, memang membuat perjalanan secara waktu jadi lebih lama. Namun, bagi kami hal itu menyenangkan. Perjalanan jadi tidak membosankan dengan pemandangan hutan dan jurang yang kami lewati. Sekali lagi, bagi kami, terutama saya, ini bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan, dan saya jadi lebih sering berzikir, juga untuk mengatasi ketegangan pada saat-saat tertentu. 🙂

Kabar buruknya dalam perjalanan menuju Dampit, hujan turun dan semakin deras! Duh, Bapake malas pula mau berhenti memakai jas hujan. :(( Jadilah kami terus melaju tanpa mantol hujan. Sementara itu, hari semakin sore dan kalau melihat GPS, Dampit masih agak jauh. Untungnya, banyak teman seperjalanan, baik motor maupun mobil. Hingga akhirnya kami memasuki wilayah Dampit dan memutuskan untuk mencari warung makan! Eh, di tengah pencarian, ketemu warung bakso yang tampak ramai. Kalau perjalanan begini, patokan makanannya enak atau enggak, ya, melihat warung itu ramai atau enggak. Malas juga, kan, sudah kelaparan, mampir ke warung makan, ternyata kurang sip. Bagaimanapun, itu risiko dari suatu perjalanan, kan?

Alhamdulillah, baksonya enak! Rezeki, deh! Setelah menyantap semangkuk bakso dan lontong (khasnya daerah Jatim, makan bakso pakai lontong), bermodal nekat kami melanjutkan perjalanan. Sepatu dan kaus kaki sudah basah kemasukan air hujan dari bagian atas sepatu akibat celana yang ternyata tidak menutupi sepatu. Jaket saya yang enggak 100% waterproof untuk hujan deras, sudah mulai basah. Apalagi sarung tangan kulit saya yang berbeda dengan punya Bapake yang sudah waterproof. Akhirnya, saya pakai celana hujan meski celana saya sudah basah sebagian besar. Pokoknya, kami harus segera tiba di Blitar sebelum terlalu malam!

Setelah melaju selama dua jam, sekitar magrib, kami memasuki Kota Blitar! Alhamdulillah! Saatnya bertanya lagi kepada Mbah Google Maps, di manakah Hotel Tugu Blitar tujuan kami? Ternyata hotel ini berada di pusat kota, tidak jauh dari alun-alun. Dari pinggir jalan, tidak terlihat keindahan hotel ini, hampir saja terlewat oleh kami. Hoetl ini terletak di kiri jalan dan tandanya pun tidak mencolok.

dsc_1116_marked
Gerbang masuk di antara ruko yang di sekitarnya biasanya buat tempat nongkrong.

Begitu masuk gerbang, kami dibikin takjub oleh hotel ini. Lorong masuknyaDSC_1112 indah (seperti di
foto)! Ternyata di kota kecil ini ada sebuah hotel cantik (tapi
konon juga spooky, hiiii).
Rasanya lega banget begitu saya turun dari motor, lalu konfirmasi kepada resepsionis. Masih kuyup dan sangat lelah, saya menyapa bapak resepsionis yang sangat ramah itu. Setelah menunggu sejenak, kami langsung masuk kamar yang sudah disiapkan. Oh, iya! Teringat bahwa kami basah kuyup, saya langsung bertanya apakah di kamar ada hair dryer atau tidak? Hehehe. Ternyata di kamar yang kami pesan (executive suite) belum ada fasilitas itu, tapi kami dipinjamkan oleh beliau. Yes, bisa mengeringkan apa yang harus dikeringkan! Hahaha. Terima kasih, Bapak!

Kamar kami terletak di area belakang sisi kiri hotel, di lantai bawah. Bapake bisa parkir motor pas di depan kamar. Setelah perjalanan yang begitu melelahkan, masuk kamar hotel adalah hal ternikmat bagi kami! Lebih nikmat lagi ketika bellboy bertanya, “Mau minum kopi atau teh?” Langsung saja saya jawab, “Kopi!” Tak lama kemudian, dua cangkir kopi pun tersaji di kamar. Alhamdulillah, meski kemanisan, kopinya enak! Lebih asyiknya lagi, kopinya dijual meski dalam bentuk bubuk (kami terbiasa menggiling kopi sendiri).

dsc_0825_1_marked
Welcome drink and fruit. 

Setelah berendam air hangat, yang amat sangat membantu memulihkan tenaga, kami bersiap-siap untuk makan malam. Btw, kamar mandinya unik. Setengah terbuka, ada tanaman, dan bathup-nya dari keramik berbentuk kotak. DSC_0840_1Saya sengaja bikin rencana makan malam di hotel pada malam terakhir perjalanan kami. Rasanya kami sudah enggan untuk keluar mencari-cari rumah makan setelah perjalanan yang melelahkan itu. Iya, melelahkan lebih karena kehujanan hampir separuh perjalanan. Kami juga ingin menikmati salah satu hotel yang kami kagumi sejak pernah kami inapi cabang lainnya di Malang belasan tahun lalu. Hotel Tugu: hotel dengan konsep museum. Nah, keunikan Hotel Tugu Blitar adalah kamar bertema Bung Karno.

DSC_1093

DSC_1097.JPG
Ruang lobi.

Setelah makan malam di ruang lobi, kami diajak minitour ke kamar tidur paling mahal di hotel itu, yaitu kamar bertema Bung Karno. Kamar itu kamar yang biasanya ditempati oleh keluarga Bung Karno ketika berziarah ke makam Bung Karno. Memang rezeki kami, malam itu kamar Bung Karno tidak ada yang menempati sehingga kami bisa melihat-lihat. Tak lupa dong, berfoto di situ. Hehehe. Di dalam kamar itu terdapat lemari yang berisi pernak-pernik Bung Karno. Bahkan, meja beliau pun ada.

Menyenangkan sekali bagi kami tur singkat ini. Pemandunya yang sudah cukup berumur itu pun sangat ramah. Hospitality yang kelihatan sesuai SOP dan menyatu dengan dirinya sehingga terlihat sangat alami (saya merasakan perbedaannya ketika esok harinya bertemu resepsionis yang masih muda). Bahkan, beliau menawarkan diri untuk memotret kami beberapa kali.

Setelah kenyang dan melihat-lihat kamar tidur termahal dan terbagus di Hotel Tugu Blitar, kami jalan-jalan melihat keramaian Kota Blitar pada malam hari. Hal yang menarik adalah di sepanjang jalan hotel itu berderet beberapa motor dan mobil terparkir. Bahkan, ada yang menyetel musik keras-keras dari dalam mobil! Oalah … ini daerah konkow anak muda Blitar, ya? Baiklah!

Alhamdulillah, setelah perjalanan yang melelahkan, malam ini kami bisa istirahat dengan nyaman. Besok pagi kami masih harus mengeringkan sepatu dan jaket! Hahaha.

Hari ke-8: Baluran

Dari 9 hari perjalanan dan 8 malam menginap, tidur malam di Baluran merupakan yang terburuk! Kami terbangun entah berapa kali dalam semalam karena kepanasan! Sudahlah panas, gelap gulita pula. Hahaha. Sungguh menderita. Sungguh kejam kamarnya karena enggak ada ventilasi (kayu semua bangunannya); mau buka jendela lebar-lebar pun kami takut. Sebelum tidur, kami sudah diingatkan oleh petugas untuk tidak membuka jendela karena bisa saja ada satwa yang masuk kamar. Walaupun begitu, entah terbangun yang ke berapa, Bapake nekat membuka jendela meski sedikit saja, sekadar ada udara yang masuk dan keluar. Udah enggak kuat lagi!!! Yah, lumayanlah, bisa “bernapas”. 😀  Satu hal yang pasti: menjelang subuh kami sudah terbangun. Setelah shalat Subuh, kami langsung berangkat ke Pantai Bama untuk menyaksikan matahari terbit!

Menanti Matahari Terbit

Perjalanan menuju Pantai Bama dari Wisma Merak hanya sekitar 5 menit, yang kami lalui dengan penerangan hanya dari lampu motor. Gimana mau ada lampu jalan, wong listrik saja cuma sampai pukul 22.00? Hehehe. Setelah parkir di tepi pantai, kami berjalan menuju ujung pantai. Hanya ada kami berdua saat itu (dan mungkin penjaga yang masih tertidur, hehehe). Sesampai di ujung, ternyata ada jalan setapak di sela-sela pepohonan bakau. Kami lewati pelan-pelan dalam kegelapan sambil berharap enggak ketemu satwa yang agresif. Beneran, deh, saya trauma sama monyet karena pengalaman buruk di Pantai Pangandaran!

Di balik pepohonan bakau bagian Pantai Bama yang biasa diakses wisatawan terdapat batu-batu karang. Meski tidak besar (kalau batu karang di tepi pantai, saya selalu teringat Pantai Wedi Ombo, Gunung Kidul), batu karang tersebut bisa menjadi tempat duduk sambil menunggu matahari terbit. Saking sepinya di sana, saya bisa mendengar suara-suara dari dalam hutan. Saya sempat kaget oleh suara bergemeresik yang agak heboh di ujung sana, di antara pepohonan. Haduh … apa ya, itu? Setelah agak terang, kami baru tahu bahwa itu suara monyet-monyet yang berloncatan dari satu dahan ke dahan lainnya.

dsc_0995_marked
Di pepohonan ujung tengah itu kerumunan monyet bermain.

Alhamdulillah pada subuh itu langit cerah, tidak berawan. Pelan-pelan langit berubah warna dari biru tua menjadi biru muda, kemudian jingga. Kami sangat menikmati suasana tenang (eh, dan sesekali suara monyet-monyet heboh di pohon) dalam menanti pergantian malam menjadi pagi. Lalu, perlahan-lahan dari balik lautan, muncullah matahari tanpa halangan. MasyaAllah. Subhanallah. Alhamdulillah. Ah, indah sekali. Just the two of us dan di pantai terpencil. Hehehe. Yah, tak lupa dong, kami berusaha mengabadikan sedikit momen itu melalui kamera ponsel. Hehehe.

IMG_20160712_113756_marked.jpg

 

dsc_0981_marked

Setelah puas menikmati matahari terbit dari balik lautan, kami menyusuri pantai dan jalan setapak menuju Pantai Bama. Dari kejauhan terlihat beberapa wisatawan berdiri di pinggir pantai. Mungkin saja itu “tetangga” kami di wisma sebelah. Maaf, ya … kami mendapatkan spot yang lebih kece, nih. Hehehe.

 

“Pemuda Setempat”

Ketika pantai mulai ramai (padahal enggak sampai 10 orang, deh), kami segera meninggalkannya menuju area sebelum sabana. Di area ini terdapat pohon-pohon yang tidak biasanya kami jumpai. Pohon-pohon yang membuat kami berasa di Afrika! Hehehe. Semangat ’45 Bapake minta difoto di situ. Berasa jadi pemuda setempat, deh, pagi itu: naik motor, enggak pakai helm, dan cuma pakai celana pendek dengan sarung!

 

dsc_1019

Pada pagi itu satwa yang kami temui di sana hanyalah dua ekor ayam hutan yang cantik. Mungkin satwa lainnya masih bobok atau malah baru bobok? Hehehe. Hingga pagi itu, kami tidak bertemu seekor pun merak yang memamerkan keindahan sayapnya. 😦 Enggak apa-apa, sih, karena kemarin bertemu langsung saja sudah merupakan rezeki bagi kami. Siapa tahu suatu saat Anda bisa bertemu dengan merak yang sedang mencari perhatian lawan jenisnya ketika berkunjung ke Baluran?

dsc_1034_marked
Hanya kedua ayam hutan itu yang kami temui.

 

 

Sebelum naik ke pos pengamatan, kami berfoto di sabana. Sepi, lho!!! Sore sebelumnya, kami masih berpapasan dengan beberapa orang dan kendaraan. Dari sabana kami kembali ke Wisma Merak untuk memarkir motor karena letak pos enggak jauh dari wisma. Wah, ternyata benar kata sang petugas tadi malam. Plastik berisi bekas makan kami sudah koyak-moyak dibongkar oleh monyet-monyet. Tempat sampah besar di pinggir tempat parkir mobil sudah terjatuh dan isinya berceceran di mana-mana. Wah, kasihan juga sang petugas harus kerja ekstra membersihkan sisa-sisa pesta para monyet tadi malam.

DSC_1046_marked.jpg
Sepi, kaaannn??? Beda banget sama kemarin sore.

*beberapa foto menyusul karena di ponsel yang sedang diservis, enggak sempat disimpan di laptop, hehehe*

Karena masih pagi, sekitar pukul 6.00, suasana sekitar pos pengamatan masih sepi. Karena itulah, kami buru-buru menaiki tangga menuju pos pengamatan. Kami ingin menikmati ciptaan Tuhan dari ketinggian tanpa terganggu oleh kehadiran lainnya. Hehehe. Ah, tapi kami diintai oleh beberapa monyet karena membawa botol minum! Sesampainya di pos pengamatan, kami menaiki anak tangga yang cukup sempit dan tinggi antartangganya. Begitu kami tiba di lantai teratas, kami dibuat takjub oleh ciptaan Tuhan. Subhanallah, masyaallah.

dsc_1051_marked
MasyaAllah, indahnya. 🙂

 

DSC_1053_marked_marked.jpg

Setelah kami menikmati pemandangan indah Baluran dan beberapa kali mengambil gambar dengan ponsel, terdengar suara obrolan dari bawah. Ada dua orang naik ke pos pengamatan. Ternyata salah satunya adalah dokter hewan yang bertugas di sini. Dari obrolannya dengan tamu yang ia bawa, kami jadi tahu bahwa area sabana di Bekol mulai berkurang karena pohon-pohon akasia yang semakin menjamur. Padahal, sabana itulah yang menjadi daya tarik Baluran. Selain itu, banteng-banteng juga sangat jarang beredar di sabana. Biasanya banteng-banteng keluar ke sabana pada musim kemarau. Kalau mau melihat beberapa banteng, pergilah ke penangkaran yang letaknya enggak jauh dari pos pengamatan. Tak lama kemudian, beberapa nenek naik ke pos pengamatan. Oke, saatnya kami turun. 🙂 Eh, waktu turun, Bapake godain monyet! :))

dsc_0806_marked
Ape lu?
dsc_0807_marked
Oke, fine. Bye ….

Dari pos pengamatan, kami menuju penangkaran banteng. Kami datang ketika jam makan pagi mereka. Ketika itu, petugas sedang memberi makanan berupa jerami. Di dalam penangkaran itu hanya ada tiga banteng. Yah, lumayanlah bisa melihat banteng di Baluran meski bukan di sabana. Tidak berlama-lama kami di sana karena kami masih harus berkemas dan bebersih diri untuk melanjutkan perjalanan menuju Blitar!

dsc_1061_marked
Ciri khas banteng: pakai “kaus kaki”. Hehehe. 

DSC_1059.JPG

Untungnya pagi itu hanya ada kami berdua sehingga kami tak perlu mengantre kamar mandi yang dipergunakan oleh tiga kamar di Wisma Merak. Setelah bebersih diri dan berkemas, kami siap melanjutkan perjalanan. Padahal, sih, rasanya belum mau lanjut kalau enggak mengingat perut yang mulai lapar dan jarak tempuh ke Blitar yang lumayan jauh. Saya melirik waktu di ponsel, sudah pukul 8.00, memang sudah saatnya pamit kepada petugas. Sayangnya kami tidak bertemu dengan petugas yang tadi malam mengantarkan kami ke kamar sehingga kunci kamar kami taruh di meja kerjanya. Untungnya kami sudah melunasi biaya kamar sebesar Rp150.000,00 sebelum check in.

dsc_0813_marked
Pemandangan dari depan Wisma Merak.
dsc_0815_marked
Wisma Merak yang syumuk itu. Hehehe.

Oiya, ingat cerita beberapa nenek naik ke pos pengamatan? Mereka menginap di wisma di sebelah kami, yang disewakan berupa satu rumah. Mereka ini juga yang malam sebelumnya menggunakan lampu sorot dari mobil untuk melihat sabana pada malam hari. Senang, deh, saya melihat mereka, yang jauh lebih tua daripada kami, tapi masih semangat jalan-jalan. Sebelum kami melanjutkan perjalanan, saya foto mereka. Hehehe.

DSC_0812_marked.jpg
Tetap semangat jalan-jalan, ya!

Sampai jumpa lagi, Baluran, yang sangat berkesan! Semoga suatu saat nanti, kami bisa kembali mengunjungimu. 🙂

 

*berlanjut